|
|
PANTAI
KUTA LOMBOK SELATAN

Pantai
Kuta,
Lombok adalah tempat wisata di Pulau Lombok, Nusa
Tenggara Barat, Indonesia. Pantai dengan pasir
berwarna putih ini terletak sebuah desa bernama Desa
Kuta. Desa Kuta mulai menjadi tempat tujuan wisata
yang menarik di Indonesia sejak didirikannya banyak
hotel-hotel baru. Selain keindahan alam yang dapat
dinikmati di desa ini, satu kali dalam setahun
diadakan upacara Sasak di desa ini.
Ini
adalah
upacara Bau Nyale. Dalam upacara ini para pelaut
mencari cacing Nyale di laut. Menurut legenda,
dahulunya ada seorang putri, bernama Putri Mandalika,
yang sangat cantik, banyak pangeran dan pemuda yang
ingin menikah dengannya. Karena ia tidak dapat
mengambil keputusan, maka ia terjun ke air laut. Ia
berjanji sebelumnya bahwa ia akan datang kembali
satu kali dalam setahun. Rambutnya yang panjang
kemudian menjadi cacing Nyale tersebut.
Desa
\Kute
dengan pantai pasir putihnya terletak di pantai
Selatan pulau Lombok. Dikelilingi oleh deretan
perbukitan. Di pagi hari pemandangan yang
menakjubkan dapat dilihat dari puncak perbukitan
tersebut. Selain itu terdpat banyak pantai-pantai
yang tak kalah menariknya di sepanjang pantai
Selatan. Di antaranya pantai Seger, Aan, Mawi,
Selong Belanak, Rowok dan Mawun. Dua yang terakhir
sangat bagus sebagai lokasi untuk selancar angin
maupun untuk olahraga pantai lainnya.
FESTIVAL BAU NYALE MANDALIKA
Setiap tanggal duapuluh
bulan kesepuluh dalam penanggalan Sasak atau lima hari setelah bulan
purnama, menjelang fajar di pantai Seger Kabupaten Lombok Tengah
selalu berlangsung acara menarik yang dikunjungi banyak orang
termasuk wisatawan. Kali ini, acara tersebut selama tiga hari, 7-9
Maret 2007. Acara yang menarik itu bernama Bau Nyale. Bau dari
bahasa Sasak artinya menangkap. Sedangkan Nyale, sejenis cacing laut
yang hidup di lubang - lubang batu karang di bawah permukaan laut.
Penduduk setempat
mempercayai Nyale memiliki tuah yang dapat mendatangkan
kesejahteraan bagi yang menghargainya dan mudarat bagi orang yang
meremehkannya.”Itulah yang berkembang selama ini,” ujar seorang
warga Lombok Tengah Lalu Wirekarme.
Tradisi
menangkap
Nyale (bahasa sasak Bau Nyale) dipercaya timbul akibat pengaruh
keadaan alam dan pola kehidupan masyarakat tani yang mempunyai
kepercayaan yang mendasar akan kebesaran Tuhan, menciptakan alam
dengan segala isinya termasuk binatang sejenis Anelida yang disebut
Nyale. Kemunculannya di pantai Lombok Selatan yang ditandai dengan
keajaiban alam sebagai rahmat Tuhan atas makhluk ini.
Beberapa waktu sebelum
Nyale keluar hujan turun deras dimalam hari diselingi kilat dan
petir yang menggelegar disertai dengan tiupan angin yang sangat
kencang. Diperkirakan pada hari keempat setelah purnama, malam
menjelang Nyale hendak keluar, hujan menjadi reda, berganti dengan
hujan rintik - rintik, suasana menjadi demikian tenang, pada dini
hari Nyale mulai menampakkan diri bergulung - gulung bersama ombak
yang gemuruh memecah pantai, dan secepat itu pula Nyale berangsur -
angsur lenyap dari permukaan laut bersamaan dengan fajar menyingsing
di ufuk timur.
Dalam kegiatan ini
terlihat yang paling menonjol adalah fungsi solidaritas dan
kebersamaan dalam kelompok masyarakat yang dapat terus dipertahankan
karena ikut mendukung kelangsungan budaya tradisional.
Keaja iban
Nyale bagi suku Sasak Lombok telah menimbulkan dongeng tentang
kejadian yang tersebar hampir keseluruh lapisan masyarakat Lombok
dan sekitarnya. Dongeng ini sangat menarik dengan cerita yang sangat
romantis dan berkembang melalui penuturan orang - orang tua yang
kemudian tersusun dalam naskah tentang legenda Nyale.
Menurut dongeng bahwa pada
zaman dahulu di pantai selatan Pulau Lombok terdapat sebuah kerajaan
yang bernama Tonjang Beru. Sekeliling di kerajaan ini dibuat ruangan
- ruangan yang besar. Ruangan ini digunakan untuk pertemuan raja -
raja. Negeri Tonjang Beru ini diperintah oleh raja yang terkenal
akan kearifan dan kebijaksanaannya Raja itu bernama raja Tonjang
Beru dengan permaisurinya Dewi Seranting.
Baginda mempunyai seorang
putri, namanya Putri Mandalika. Ketika sang putri menginjak usia
dewasa, amat elok parasnya. Ia sangat anggun dan cantik jelita.
Matanya laksana bagaikan bintang di timur. Pipinya laksana pauh
dilayang. Rambutnya bagaikan mayang terurai. Di samping anggun dan
cantik ia terkenal ramah dan sopan. Tutur bahasanya lembut. Itulah
yang membuat sang putri menjadi kebanggaan para rakyatnya.
Semua
rakyat
sangat bangga mempunyai raja yang arif dan bijaksana yang ingin
membantu rakyatnya yang kesusahan. Berkat segala bantuan dari raja
rakyat negeri Tonjang Beru menjadi hidup makmur, aman dan sentosa.
Kecantikan dan keanggunan Putri Mandalika sangat tersohor dari ujung
timur sampai ujung barat pulau Lombok. Kecantikan dan keanggunan
sang putri terdengar oleh para pangeran - pangeran yang membagi
habis bumi Sasak (Lombok). Masing - masing dari kerajaan Johor,
Lipur, Pane, Kuripan, Daha, dan kerajaan Beru. Para pangerannya pada
jatuh cinta. Mereka mabuk kepayang melihat kecantikan dan keanggunan
sang putri.
Mereka
saling
mengadu peruntungan, siapa bisa mempersunting Putri Mandalika. Apa
daya dengan sepenuh perasaan halusnya, Putri Mandalika menampik.
Para pangeran jadi gigit jari. Dua pangeran amat murka menerima
kenyataan itu. Mereka adalah Pangeran Datu Teruna dan Pangeran
Maliawang. Masing - masing dari kerajaan Johor dan kerajaan Lipur.
Datu Teruna mengutus Arya Bawal dan Arya Tebuik untuk melamar,
dengan ancaman hancurnya kerajaan Tonjang Beru bila lamaran itu
ditolaknya. Pangeran Maliawang mengirim Arya Bumbang dan Arya Tuna
dengan hajat dan ancaman yang serupa.
Putri Mandalika tidak
bergeming. Serta merta Datu Teruna melepaskan senggeger Utusaning
Allah, sedang Maliawang meniup Senggeger Jaring Sutra. Keampuhan
kedua senggeger ini tak kepalang tanggung dimata Putri Mandalika,
wajah kedua pangeran itu muncul berbarengan. Tak bisa makan, tak
bisa tidur, sang putri akhirnya kurus kering. Seisi negeri Tonjang
Beru disaput duka.
Kenapa
sang
putri menolak lamaran ? Karena, selain rasa cintanya mesti bicara,
ia juga merasa memikul tanggung jawab yang tidak kecil. Akan timbul
bencana manakala sang putri menjatuhkan pilihannya pada salah
seorang pangeran. Dalam semadi, sang putri mendapat wangsit agar
mengundang semua pangeran dalam pertemuan pada tanggal 20 bulan 10 (
bulan Sasak ) menjelang pagi - pagi buta sebelum adzan subuh
berkumandang. Mereka harus disertai oleh seluruh rakyat masing -
masing. Semua para undangan diminta datang dan berkumpul di pantai
Kuta. Tanpa diduga - duga enam orang para pangeran datang, dan
rakyat banyak yang datang, ribuan jumlahnya. Pantai yang didatangi
ini bagaikan dikerumuni semut.
Ada yang datang dua hari
sebelum hari yang ditentukan oleh sang putri. Anak - anak sampai
kakek - kakek pun datang memenuhi undangan sang putri ditempat itu.
Rupanya mereka ingin menyaksikan bagaimana sang putri akan
menentukan pilihannya. Pengunjung berduyun - duyun datang dari
seluruh penjuru pulau Lombok. Merekapun berkumpul dengan hati sabar
menanti kehadiran sang putri.
Betul
seperti
janjinya. Sang putri muncul sebelum adzan berkumandang. Persis
ketika langit memerah di ufuk timur, sang putri yang cantik dan
anggun ini hadir dengan diusung menggunakan usungan yang berlapiskan
emas. Prajurit kerajaan berjalan di kiri, di kanan, dan di belakang
sang putri. Sungguh pengawalan yang ketat. Semua undangan yang
menunggu berhari - hari hanya bisa melongo kecantikan dan keanggunan
sang putri. Sang putri datang dengan gaun yang sangat indah.
Bahannya dari kain sutera yang sangat halus.
Tidak lama kemudian, sang
putri melangkah, lalu berhenti di onggokan batu, membelakangi laut
lepas. Disitu Putri Mandalika berdiri kemudian ia menoleh kepada
seluruh undangannya. Sang putri berbicara singkat, tetapi isinya
padat, mengumumkan keputusannya dengan suara lantang dengan berseru
: ”Wahai ayahanda dan ibunda serta semua pangeran dan rakyat negeri
Tonjang Beru yang aku cintai. Hari ini aku telah menetapkan bahwa
diriku untuk kamu semua. Aku tidak dapat memilih satu diantara
pangeran. Karena ini takdir yang menghendaki agar aku menjadi Nyale
yang dapat kalian nikmati bersama pada bulan dan tanggal saat
munculnya Nyale di permukaan laut.”

Bersamaan dan berakhirnya
kata - kata tersebut para pangeran pada bingung rakyat pun ikut
bingung dan bertanya - tanya memikirkan kata - kata itu. Tanpa
diduga - duga sang putri mencampakkan sesuatu di atas batu dan
menceburkan diri ke dalam laut yang langsung di telan gelombang
disertai dengan angin kencang, kilat dan petir yang menggelegar.
Tidak ada tanda - tanda
sang putri ada di tempat itu. Pada saat mereka pada kebingungan
muncullah binatang kecil yang jumlahnya sangat banyak yang kini
disebut sebagai Nyale. Binatang itu berbentuk cacing laut. Dugaan
mereka binatang itulah jelmaan dari sang putri. Lalu beramai - ramai
mereka berlomba mengambil binatang itu sebanyak - banyaknya untuk
dinikmati sebagai rasa cinta kasih dan pula sebagai santapan atau
keperluan lainnya.

Itulah kisah Bau Nyale.
Penangkapan Nyale menjadi tradisi turun - temurun di pulau Lombok.
Pada saat acara Bau Nyale yang dilangsungkan pada masa sekarang ini,
mereka sejak sore hari mereka yang akan menangkap Nyale berkumpul di
pantai mengisi acara dengan peresean, membuat kemah dan mengisi
acara malam dengan berbagai kesenian tradisional seperti Betandak (berbalas
pantun), Bejambik (pemberian cendera mata kepada kekasih), serta
Belancaran (pesiar dengan perahu). Dan tak ketinggalan pula, digelar
drama kolosal Putri Mandalika di pantai Seger.
Warga masyarakat yang
datang ke pantai Seger untuk ikut melaksanakan upacara Bau Nyale
datang dengan menggunakan kendaraan. Nyale bagi penduduk Lombok
Selatan dengan lahan persawahan tadah hujan merupakan benda rahmat
Tuhan yang bisa digunakan sebagai tanda keberhasilan panen yang
memuaskan.

Tradisi Bau Nyale -
menangkap cacing laut - sebagai bagian dari legenda Putri Mandalika
di Lombok.Di sana, warga dari sekeliling Lombok berdatangan sejak
malam sebelumnya.
Lalu Wirekarme yang
pernah menjabat Kepala Sub Dinas Pemasaran Dinas Pariwisata Lombok
Tengah, menjelaskan bahwa acara ini sebenarnya sudah berlangsung
turun temurun secara alami. Namun, setelah berkembangnya pariwisata
di Lombok, kemeriahan pun semakin dipoles adanya atraksi tambahan
berupa pementasan drama kolosal Putri Mandalika yang dihadiri oleh
pejabat lokal hingga provinsi Nusa Tenggara Barat bahkan tidak
sedikit yang datang dari Jakarta.
Bau Nyale ada di 16 pantai
yang memanjang sejauh 72 kilometer dari arah timur hingga ke barat
di selatan Lombok Tengah. Utamanya dilaksanakan di pantai Seger dan
sekitarnya. Pantai obyek pariwisata yang potensial di Nusa Tenggara
Barat. Keindahan pantai ini membuat hati para wisatawan menjadi
kagum melihat segala pemandangan alamnya. Perairan di sekitar pantai
Kuta hingga pantai Tanjung Aan sangat cocok untuk berenang. Pantai
ini terletak di bagian selatan pulau Lombok, kira - kira 54
kilometer tenggara kota Mataram. Suasananya tenang senyap menyambut
langkah - langkah diantara pasir putih halus - bagaikan merica -
yang membentang dari ujung barat ke ujung timur dengan puluhan
kawasan wisata mulai dari pantai Ujung Kelor yang berbatasan dengan
Lombok Timur, hingga pantai Pengantap di Lombak Barat.

Seperti biasanya, dipadati
ribuan kaum muda setelah menungguinya di tengah hujan deras
sepanjang malam. Mereka yang rela menahan dingin dan kantuk di
Pantai Seger di Desa Kuta Kecamatan Pujut dalam kawasan PT
Pengembangan Pariwisata Lombok tersebut yang datang tidak hanya dari
warga desa di Kecamatan Pujut saja. Tetapi juga para muda-mudi dari
Mataram dan Praya yang datang mengendarai ratusan mobil.Pantai Seger
yang kini lebih dikenal dengan pantai Putri Nyale ini pun dilengkapi
oleh lereng - lereng yang terjal dari bukit yang berbatasan dengan
bibir pantai. Sungguh, alam mempesona. Di pantai selatan itulah
hidup dan tersebar suatu legenda sehubungan dengan adanya Nyale (sejenis
cacing laut) yang muncul satu kali dalam setahun.

Nyale ditangkap di
beberapa tempat di pantai selatan pulau Lombok antara lain di pantai
Kaliantan, Kuta, Selong Belanak, Mawun. Lokasi yang terbaik
dikunjungi wisatawan adalah pantai Seger desa Kuta dengan kondisi
prasarana yang cukup memadai. Nyale pada melakukan pembuahan muncul
di permukaan laut yang dimulai pada waktu fajar sampai sebelum
matahari terbit. Munculnya Nyale di permukaan laut pada saat
menjelang fajar yang disinari oleh rembulan membawa keindahan yang
menarik dan merangsang para nelayan untuk menangkap Nyale dan lama
kelamaan menjadi tradisi budaya. Munculnya Nyale dipermukaan laut
terjadi setiap tahun sekitar bulan Februari.

Secara ilmiah, cacing
Nyale yang pernah diteliti mengandung protein hewani tinggi sekali.
Pernah dijelaskan oleh penelitinya, Dr dr Soewignyo Soemohardjo,
cacing Nyale ini telah diketahui mengeluarkan suatu zat yang sudah
terbukti bisa membunuh kuman-kuman. Dari sebuah laporan survey aspek
sosio budaya Nyale, diketahui 70,6 persen responden membuang daun
bekas pembungkus Nyale ke sawah supaya hasil tanaman padi akan
melimpah ruah dan memberi tahu tanaman padi bahwa nyale telah
selesai ditangkap yang berarti hujan akan berhenti.
Selama ini masyarakat
menjadikan masakan pes - dikukus dibungkus daun - yang enak sekali.
Masyarakat juga meyakini apabila Nyale keluar banyak menandakan
pertanian berhasil. Lombok Selatan selama ini dikenal sebagai daerah
kritis karena tidak adanya irigasi. Sawah di sana tadah hujan. Jadi
kalau hujan banyak barangkali salinitas air memungkinkan untuk
populasinya berkembang, diyakini tanaman padinya berhasil.
|